Jumat, 11 Mei 2012
0
artinya untuk file diatas: (dibaca dari kiri per 3 digit)
Linux rentan Virus | Mitos atau FAKTA ?
Setelah melihat artikel tentang virus
yang dibuat dengan bahasa pemrograman python yang menyerang sistem Mac,
membuat saya bertanya-tanya apakah Sistem Operasi Linux yang selama ini
saya gunakan benar-benar bebas virus atau tidak.
Bila kita berbicara tentang Linux,
mitosnya adalah Linux sama sekali bebas virus. Tapi faktanya adalah ADA
virus di Linux. Tidak banyak memang, tapi ada. Beberapa ahli IT
beranggapan bahwa virus di Windows lebih banyak karena OS ini lebih
terkenal, dan nantinya bila Linux juga mulai dipakai secara signifikan
pasti akan ada serangan virus juga. Lalu apakah Linux akan sama dengan
Windows nantinya?
Sebenarnya Linux tidak sama dengan
Windows, karenanya keduanya dibangun pada basis yang berbeda. Linux
malah lebih mirip dengan Mac karena sama-sama dibangun diatas sistem
UNIX.
Tapi sebelumnya kita akan membahas bagaimana sebuah virus di Microsoft
Windows bisa menginfeksi. Setidaknya ada beberapa cara, yaitu:- Mengakses program dengan sembarangan, termasuk download aplikasi terinfeksi (biasanya crack bajakan)
- Celah yang terbuka dari sistem. Biasanya masuk melalui jaringan internet atau LAN. Dulu ada virus Windows bernama beagle dan nimda yang terkenal karena kemampuannya menyebar di jaringan (kala itu virus ini revolusioner)
- Tidak hati-hati membuka attachment file dan link website, termasuk file MS Office yang terinfeksi.
- Tertipu dengan penampakan virus, misalnya file virus yang disamarkan sebagai file gambar porno (umum dilakukan oleh virus di Indonesia)
- Tertular melalui media removeable macam flashdisk.
Yang pertama, ada perbedaan mendasar
antara Windows dan Linux, yaitu masalah hak akses file. Pada Windows,
terutama versi home edition (untuk versi bussines/corporate saya belum
mencoba, tapi sepertinya ada) tidak dikenal hak akses suatu file/folder.
Contohnya di Linux, bila anda mempunyai sebuah file, maka file itu akan
mempunyai 3 macam hak akses, yaitu user, group, dan everybody. Tiap hak
akses file mempunyai 3 parameter yaitu read (r), write(w), dan
executabled(x). jadi pada waktu kita melakukan pengecekan file di Linux
akan didapatkan seperti ini:
-rwxr-xr-x 1 ferry disk 4401932 May 28 2011 unetbootin-linux-549- hak akses user dimiliki user ferry dengan hak read, write dan executabled (rwx)
- hak akses group dimiliki oleh group disk dengan hak akses read dan executabled (r-x)
- hak akses everybody dengan hak akses read dan executabled (r-x)

Tampilan hak akses di Linux
Hal mendasar ini yang membuat sistem
Linux aman, sangat kontras dengan Windows.Awal mulanya Windows
menggunakan tipe filesystem FAT yang tidak mengenal hak akses. Baru di
NTFS (mulai Windows NT, lalu dilanjutkan ke 2000, dst), Windows
memperkenalkan hak akses ini, tapi pengaturan hak akses ini tidak
dilakukan secara langsung. Saya yakin bahwa banyak pengguna Windows yang
tidak tahu akan hak akses suatu file. Hak akses folder baru akan terasa
bila komputer Windows anda memiliki beberapa username, biasanya folder
Documents antar username tidak bisa dibuka.
Yang kedua, semua file executabled
(*.exe - aplikasi) dikenali dari beberapa digit pertama (header) dari
file itu, biasanya 2 digit pertama adalah MZ. Celakanya Windows membaca
file bukan dari header file, tapi dari extension file terutama saat
menampilkan icon. Jadi saat ada file virus dalam bentuk *.vbs (VB
Script), saya bisa menyamarkan file ini dalam bentuk TXT, HTML bahkan
JPG. Nah inilah yang dilakukan beberapa virus yang mencoba mengelabui
user dengan cara menyamar sebagai file lain.
Yang ketiga, pada saat selesai instalasi
Windows, anda akan langsung diberikan user dengan hak administrator.
Memang di Windows 7 sudah ada dialog yang menanyakan konfirmasi user
(meniru Linux/Mac??) saat ada file mencurigakan mencoba menulis sistem.
Tapi berapa banyak user yang tidak tahu maksud dialog itu selain klik
CONTINUE atau CANCEL saja?

Dialog konfirmasi di Windows
Saya tidak mau membahas apakah Windows
dibuat dengan jelek atau tidak, tapi 3 hal diatas yang membuat Windows
sangat rentan pada virus.
Lalu bagaimana dengan Linux? Wikipedia
mencatat ada 29 virus, 3 trojan, dan 12 worms yang sudah teratasi.
Virus-virus di Linux kebanyakan menyerang aplikasi, jadi lebih bersifat
karena sebuah aplikasi memiliki celah. Tapi bukan berarti Linux bebas
virus, Kecenderungan Linux yang menjadi semakin mudah digunakan bisa
membuat Sistem Operasi ini rentan terhadap virus. User memang tidak bisa
menghapus file yang ada di system, tapi Linux sekarang juga mempunyai
satu celah besar yang disebabkan oleh sebuah aplikasi yang saat ini
dipakai secara luas, yaitu sudo (switch user and do).
Pada waktu selesai instalasi Linux,
biasanya akan ditanyakan password untuk user root (superuser). Dan user
pertama yang terinstalasi pada Linux Ubuntu akan menjadi administrator
yang bisa mengacak-acak sistem dengan tambahan perintah sudo. Perintah
sudo sendiri akan membuat user mudah mengatur system, misal mengatur
jaringan, instalasi paket aplikasi, dsb. Jadi bila saya akan membuat
sebuah virus Linux, saya akan memastikan bahwa virus saya menanyakan
user password dengan perintah sudo, baru nanti system secara keseluruhan
terinfeksi. Tapi perintah sudo juga bisa dibatasi untuk tiap user, jadi
dalam hal ini Linux memang sudah mempunyai pencegahan.
Lalu bagaimana dengan link atau
attachment yang memanfaatkan celah di peramban internet atau email
client? Dalam hal ini anda bisa tenang, karena aplikasi seperti peramban
internet dan email client tidak mempunyai akses penulisan file ke
system. Tapi plugin dan add-on jahat bisa menanyakan password dan
membuat sebuah file startup di folder home seorang user. Untuk pengguna
Ubuntu dengan gnome, biasanya akan diletakkan di
~/.config/autostart (untuk GNOME desktop) atau ~/.kde/Autostart (untuk KDE desktop). Jadi Linux memang tidak 100% bebas virus. Linux sendiri mempunyai celah yang terlihat didepan mata.
Apakah virus di Linux bisa menular
melalui flashdisk? Jawabnya tidak. Hak akses file tidak dikenal oleh
filesystem FAT yang biasanya dgunakan di flashdisk. Tapi di beberapa
versi Ubuntu (setahu saya 10.04), filesystem FAT dipasang secara
otomatis dengan hak akses rwx, mulai versi Ubuntu 10.10, pola ini
dihapus. Meskipun sebuah flashdisk di Linux dapat dijalankan fitur
autorun-nya, tapi eksekusi sebuah script tetap membutuhkan konfirmasi
user.
Untungnya Linux sendiri didesain untuk
multiuser. Jadi bila Linux digunakan di kantor, maka biasanya admin akan
mempunyai username, dan pengguna biasa tidak mempunyai hak untuk
mengubah system, jadi tidak terdapat pada daftar ijin penggunaan sudo.
Kesimpulannya, Linux memang tidak 100%
aman, ada celah melalui startup file, sudo, add-on, dsb, Secara
keseluruhan Linux dan Mac jauh lebih aman daripada Windows. Jadi bila
anda menginginkan sebuah Sistem Operasi yang lengkap dan aman,
gunakanlah Linux.
Saya menyarankan penggunaan Linux untuk
kantor karena akan dapat mengurangi biaya maintenance secara signifikan
dalam hal perawatan terhadap virus. Sebagai gambaran, di sekolah tempat
saya mengajar, pada waktu kami menggunakan Windows di tahun 2005-2006,
instalasi ulang sistem dilakukan setiap 6 bulan sekali. Tapi dengan
Linux, bahkan saya tidak perlu instalasi ulang selama 1 tahun lebih,
kecuali update software macam OpenOffice.
Ayo pakai Linux dan OpenSource, kurangi pembajakan, membajak itu dosa, pendosa tempatnya di neraka. :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Linux rentan Virus | Mitos atau FAKTA ?”
Posting Komentar
Silahkan beri kesan/kritik/saran/pertanyaan di kotak ini: